Kebun Belakang Rumah di Adelaide Ini Buktikan Bertani Bisa Hemat dan Cantik Sekaligus

Di jantung kota Adelaide, tepatnya di Kaurna, Jayne Varnish mengubah halaman belakang rumahnya menjadi oase tanaman yang rimbun dan penuh karakter. Kebun ini tidak dibangun dengan rencana desain rumit atau dana besar. Sebaliknya, ia tumbuh secara alami selama hampir tiga dekade, berdasarkan intuisi dan kejelian memanfaatkan yang ada.

Seperti yang dilaporkan oleh Gardening Australia melalui ABC News, Jayne memulai dengan menggambar jalur melengkung di sekitar pepohonan yang sudah ada. Area tanamnya kemudian diisi tanaman “tahan banting” seperti salvias dan geranium, yang mudah diperbanyak dan tidak rewel. Bagi Jayne, tekstur adalah kunci. “Saya selalu menyukai semua jenis kebun, gayanya tidak terlalu penting, yang penting banyak teksturnya—perpaduan tanaman berdaun panjang, berbulu, dan bergelombang yang seolah menari di taman,” ujarnya.

Tekstur tidak hanya muncul dari tanaman, tetapi juga dari material yang digunakan. Jayne memanfaatkan apa pun yang tersedia untuk membuat jalur dan batas zona, mulai dari batu bata, potongan kayu, hingga ubin mosaik. Hal ini membebaskannya dari keharusan membeli bahan dalam jumlah besar dan justru memberi keunikan visual yang khas.

Salah satu pusat perhatian kebunnya adalah pohon murbei tua yang menjulang dan diyakini setua rumahnya sendiri. Pohon ini tidak hanya menghasilkan buah melimpah dan dedaunan untuk kompos, tetapi juga memberikan keteduhan di musim panas dan membuka ruang cahaya matahari saat musim dingin tiba. Di bawah naungannya, Jayne mengandalkan pot untuk menanam tanaman yang lebih sensitif terhadap kekeringan, karena akar pohon mengambil hampir semua kelembaban tanah.

Selain manusia, kebun ini juga dirancang sebagai tempat tinggal bagi makhluk lain. Jayne dengan sengaja menyimpan ranting dan batang pohon untuk dijadikan tempat tinggal bagi kadal biru dan tokek. Ia bahkan membeli mesin penghancur ranting agar bisa mengubah limbah kayu menjadi mulsa yang menjaga kelembaban tanah sekaligus menjadi habitat bagi serangga tanah dan cacing.

Kebun Jayne juga menyediakan air di berbagai titik, dalam wadah mosaik buatan tangan dan tempat mandi burung. Hasilnya, kebun ini ramai dikunjungi burung lokal seperti magpie, rosella, dan sekelompok kecil honeyeater kuning.

Dari segi tanaman, Jayne memadukan berbagai jenis dengan fungsinya masing-masing. Salvias menjadi andalan karena mudah tumbuh dan berbunga, bahkan saat telat disiram. Pakis-pakisan lokal seperti kangaroo fern dan fishbone fern tumbuh baik di area teduh asalkan tanahnya dijaga tetap lembap. Warna perak dari tanaman seperti emu bush, lamb’s ear, dan blue fescue menambah kontras pada hamparan hijau, sekaligus tahan terhadap kondisi panas dan kering.

Pelargonium wangi dan bromeliad beraneka rupa mengisi ruang jalur dan area gantung. Bahkan air plants jenis Tillandsia memanfaatkan cabang pohon sebagai tempat tumbuh, menciptakan komposisi vertikal yang dinamis.

Kebun Jayne Varnish bukan hanya cerminan kreativitas dan cinta pada tanaman, tapi juga semacam pernyataan politik tentang pentingnya ruang hijau di tengah kota. “Saya merasa perlu berkebun untuk seluruh lingkungan ini,” katanya. Ketika rumah-rumah tua di sekitarnya makin banyak yang dibelah dua dan lahan hijau menyusut, kebun ini hadir sebagai ruang napas yang hidup.

Tim Penulis Tanamderumah

Tim Tanamderumah.com memiliki pengalaman lebih dari 5 tahun di dunia berkebun dan budidaya tanaman.

Artikel kami ditulis berdasarkan praktik langsung, wawasan ahli, serta ditulis ulang dari sumber berita terpercaya untuk menjaga akurasi informasi. Konten disusun agar mudah dipahami, relevan, dan dapat diandalkan oleh semua pembaca.

Kritik dan saran silakan hubungi kami melalui laman Kontak.

Kontak

Bagikan artikel ini: