Vega de Tilopozo, hamparan dataran garam di jantung Gurun Atacama, Chile, dulu dikenal sebagai lahan subur yang hijau. Kini, tanahnya retak, kolam-kolam alami mengering, dan rumput yang pernah menyembunyikan ternak tak lagi tumbuh. Raquel Celina Rodriguez, seorang penduduk lokal, menyebutkan perubahan drastis itu tak hanya disebabkan oleh perubahan iklim, tapi juga eksploitasi air tanah oleh perusahaan tambang litium.
Dalam laporan BBC yang dilansir dari wilayah Chile (20 Juli 2025), penulis Ione Wells menyoroti dilema serius: di balik upaya dunia menuju energi bersih dan mobil listrik, terdapat krisis ekologi yang menggerus kehidupan komunitas lokal. Litium, logam putih keperakan yang vital untuk baterai kendaraan listrik dan penyimpanan energi surya, diekstraksi dengan cara memompa air garam dari bawah tanah ke permukaan untuk kemudian diuapkan—menguras sumber air yang sangat lambat untuk pulih.
Produksi litium global telah melonjak tajam. Menurut International Energy Agency, konsumsi litium dunia meningkat dari 95.000 ton pada 2021 menjadi 205.000 ton pada 2024, dan diproyeksikan mencapai lebih dari 900.000 ton pada 2040. Mayoritas permintaan itu berasal dari sektor kendaraan listrik.
Chile, produsen litium terbesar kedua setelah Australia, mendorong produksi lebih besar lewat strategi nasional yang digerakkan oleh kolaborasi antara perusahaan negara Codelco dan raksasa tambang SQM. Target mereka: setidaknya 2,5 juta ton logam litium per tahun hingga 2060. Pemerintah menyebut langkah ini sebagai kontribusi terhadap aksi iklim global.
Namun, di lapangan, suara-suara berbeda terdengar. Faviola González, ahli biologi dari komunitas adat di Los Flamencos National Reserve, mencatat menurunnya luas laguna dan populasi burung flamingo akibat hilangnya mikroorganisme yang menjadi makanan utama mereka. “Sebelumnya banyak anak flamingo menetas di sini. Tahun ini hanya sedikit,” katanya, menghubungkannya dengan pengambilan air yang terus berlangsung sejak dekade lalu.
Tak hanya fauna yang terdampak. Vegetasi asli seperti pohon algarrobo (carob) mulai mati. Sebuah laporan dari National Resources Defense Council AS pada 2022 menyebut bahwa sepertiga dari pohon-pohon ini di kawasan tambang SQM mengalami kematian sejak 2013.
Sementara itu, SQM mengklaim tengah menjalankan pilot project teknologi ekstraksi baru yang lebih efisien, termasuk sistem pemulihan air untuk dikembalikan ke tanah. Mereka menyebut telah menyelamatkan lebih dari satu juta meter kubik air dan akan mulai transisi teknologi itu secara penuh pada 2031.
Namun, keraguan tetap menggelayuti warga lokal. “Kami ini seperti kelinci percobaan,” ujar Faviola, mempertanyakan ketahanan ekosistem terhadap teknologi baru. Sergio Cubillos, tokoh masyarakat dari desa Peine, menyebut bahwa meski perusahaan menyumbang infrastruktur dan dana, masyarakat adat tetap tak dilibatkan cukup dalam pengambilan keputusan yang berdampak besar bagi hidup mereka.
“Kami dipaksa mengubah seluruh sistem air minum dan pengolahan limbah karena kekeringan,” jelas Sergio. Ia menyayangkan bahwa semua keputusan besar ditentukan dari Santiago, ibu kota yang jauh dari realitas gurun Atacama.
Sara Plaza, warga lain yang keluarganya menggembala di sana sejak lama, menyuarakan kekhawatiran mendalam. “Saya tidak butuh uang perusahaan. Saya ingin bisa hidup dari alam, dari air yang dulu ada di sini,” ucapnya lirih.
Ironisnya, perjuangan mereka terjadi demi menyuplai bahan utama bagi teknologi ramah lingkungan yang justru dinikmati negara-negara maju. “Kami di sini jejak karbonnya kecil,” ujar Faviola. “Tapi air kami yang diambil. Burung-burung suci kami yang menghilang.”



