Ketika pemerintah Sri Lanka merilis National Red List tanaman terancam punah tahun 2020, ada 128 spesies disebut “mungkin punah” karena tak terdeteksi selama satu abad terakhir; selain itu ada dua spesies yang dinyatakan benar‑benar punah dan dua lainnya punah di habitat alamnya. Namun berita ini justru menjadi momentum optimisme, karena sejumlah tanaman ternyata berhasil ditemukan kembali dengan bantuan sosok unik bernama Himesh Jayasinghe menurut lansiran Mongabay.
Jayasinghe, yang sebenarnya lulusan teknik sipil, rela meninggalkan karier di usianya menjelang 30-an untuk mengejar passion pada dunia botani dan sejarah alam. Seiring penerbitan buku tentang kupu-kupu yang mengharuskannya mencari tanaman inang ulat, Jayasinghe menemukan ketertarikan kuat pada botani hingga akhirnya menjadi “penyelamat” flora langka di Sri Lanka.
Berbekal ketajaman visual dan daya ingat luar biasa, Jayasinghe menjelajahi habitat‑habitat sulit—dari lereng terjal, air terjun, puncak bukit, hingga savana dan rawa. Dia berhasil menemukan kembali lebih dari 100 dari 177 spesies yang sebelumnya dinyatakan mungkin punah, termasuk tiga dari lima spesies yang dikategorikan benar‑benar punah, dan kedua spesies yang semula dianggap punah di alam liar. Lebih dari itu, ia mendokumentasikan sekitar 210 spesies yang sebelumnya belum pernah dipublikasikan sebagai bagian dari flora nasional Sri Lanka.
Salah satu contohnya adalah Crudia zeylanica, pohon leguminosa yang dulu dianggap punah sejak 1911, namun ditemukan kembali pada 2019 di wilayah Daraluwa dekat rencana pembangunan jalan tol. Sayangnya satu specimen ditemukan dirusak pada 2023, menunjukkan tantangan serius antara konservasi dan infrastruktur modern.
Kesuksesan Jayasinghe bukan hasil kerja sendirian. Kolaborasi antara ahli botani seperti Siril Wijesundara dari NIFS (National Institute of Fundamental Studies) serta para ilmuwan botani lainnya, amat krusial dalam verifikasi dan pengakuan resmi temuan Jayasinghe. Pendanaan dari institusi, termasuk sabun teh Dilmah, juga mendukung riset dan lapangan yang intensif.
Temuan‑temuan ini memberikan angin segar di tengah fakta keras bahwa hampir 49 spesies tercatat punah dalam daftar lama 2012. Kini data terbaru menunjukkan penurunan jumlah spesies hilang drastis, memberikan harapan bagi konservasi tanaman endemik Sri Lanka.
Dengan lebih dari 863 spesies tanaman berbunga endemik di negeri ini dan hampir 50 persen berada dalam kategori terancam (kritis, rentan, atau mungkin punah), kualitas pengawasan dan survei lapangan sangat vital. Keberhasilan Jayasinghe menunjukkan bahwa dedikasi personal dan metode pencarian habitat yang spesifik bisa membuka kembali kebun flora nasional yang selama ini hilang dari literatur.
Dari narasi ini lahir pelajaran penting: konservasi bukan hanya soal kawasan lindung atau kebijakan, tapi bisa dipengaruhi oleh kesadaran individu yang giat menjelajah dan mendokumentasikan alam. Sosok seperti Jayasinghe mampu mengubah status tanaman “punah” menjadi “ditemukan kembali” dan menumbuhkan optimisme bahwa Sri Lanka bisa memulihkan sebagian besar flora langkanya—bila ada kerja keras, kolaborasi, dan strategi yang tepat.



