Kabar Flora

Penelitian Ungkap Tanaman Bisa “Makan” Debu Melalui Daunnya

Selama ini, akar dianggap sebagai satu-satunya organ utama tanaman untuk menyerap nutrisi. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa sebagian tanaman ternyata juga dapat memperoleh unsur hara dari debu yang menempel di permukaan daunnya.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal New Phytologist menemukan bahwa debu atmosfer mengandung berbagai mineral penting, seperti fosfor, besi, mangan, nikel, dan tembaga. Ketika debu tersebut mengendap di daun dan bercampur dengan kelembapan, tanaman mampu melarutkan serta menyerap sebagian nutrisi tersebut secara langsung melalui jaringan daunnya.

Para peneliti melakukan percobaan pada tiga spesies semak di perbukitan Yudea, Israel, wilayah yang secara rutin menerima debu dari Gurun Sahara dan Gurun Arab. Tanaman yang daunnya diberi perlakuan debu menunjukkan peningkatan kandungan beberapa unsur mikro penting pada jaringan di atas tanah dibandingkan tanaman yang tidak diberi perlakuan.

Menurut tim peneliti, permukaan daun bukan sekadar lapisan pasif. Daun menghasilkan lingkungan kimia yang unik melalui sekresi asam organik yang membantu melarutkan mineral dalam partikel debu sehingga unsur hara lebih mudah diserap tanaman.

Penemuan ini menantang pandangan lama bahwa nutrisi tanaman hampir sepenuhnya berasal dari tanah dan akar. Di lingkungan yang miskin unsur hara, terutama di daerah kering dan berdebu, debu atmosfer mungkin menjadi sumber nutrisi tambahan yang jauh lebih penting daripada yang selama ini diperkirakan.

Berdasarkan perhitungan para peneliti, penyerapan nutrisi melalui daun berpotensi menyumbang hingga sekitar 17 persen pasokan besi dan 12 persen pasokan fosfor yang biasanya diperoleh dari tanah di beberapa wilayah tertentu. Selama peristiwa badai debu, kontribusi ini bahkan dapat menyamai atau melebihi suplai nutrisi dari tanah.

Temuan ini membuka perspektif baru mengenai cara tanaman bertahan hidup dan beradaptasi di lingkungan yang keras. Para ilmuwan menilai bahwa peran debu atmosfer dalam siklus nutrisi ekosistem kemungkinan selama ini masih diremehkan dan perlu diperhitungkan dalam penelitian ekologi maupun prediksi respons vegetasi terhadap perubahan iklim di masa depan.