Penelitian ilmiah tentang penyakit tanaman tidak selalu dilakukan di laboratorium atau lahan pertanian. Di Washington University in St. Louis (WashU), murid kelas satu sekolah dasar justru ikut berperan sebagai peneliti lapangan untuk mengumpulkan data yang digunakan dalam riset penyakit tanaman dan dampak perubahan lingkungan.
Program ini dipimpin oleh Dr. Rachel Penczykowski, Associate Professor Biologi di WashU yang meneliti penyakit infeksi pada tanaman. Bersama para siswa di Jackson Park Elementary School, ia mengajak anak-anak mengamati tanaman Plantago, sejenis gulma yang umum ditemukan di berbagai wilayah.
Dengan membawa papan tulis kecil, penggaris, dan lembar pencatatan, para siswa menghitung jumlah daun, mengukur tinggi batang, sekaligus mencari tanda-tanda powdery mildew, penyakit jamur yang meninggalkan lapisan putih pada permukaan daun. Data yang mereka kumpulkan kemudian diproses oleh laboratorium Penczykowski sebagai bagian dari penelitian yang sedang berlangsung.
Penyakit tanaman makin dipengaruhi lingkungan
Selama bertahun-tahun, tim peneliti WashU mempelajari berbagai faktor lingkungan yang memengaruhi penyebaran powdery mildew. Salah satu temuan penting mereka adalah bahwa penyakit ini cenderung lebih banyak ditemukan di lingkungan perkotaan dibandingkan daerah pedesaan.
Riset tersebut bertujuan memahami bagaimana patogen tanaman merespons perubahan iklim, penggunaan lahan, dan kondisi lingkungan lainnya. Pengetahuan ini diharapkan dapat membantu pengelolaan tanaman budidaya serta meningkatkan ketahanan pertanian terhadap perubahan iklim di masa depan.
Murid SD juga bisa menjadi ilmuwan
Menurut Penczykowski, anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar sehingga mampu berkontribusi dalam penelitian nyata.
Ia mengatakan bahwa murid kelas satu SD mampu mengajukan banyak pertanyaan penting tentang alam dan mengumpulkan data yang bernilai bagi penelitian.
Pendekatan ini sekaligus memperkenalkan metode ilmiah sejak usia dini melalui pengalaman langsung di kebun sekolah, bukan hanya melalui buku pelajaran.
Dari kebun sekolah ke riset global
WashU berharap program tersebut tidak berhenti di satu sekolah saja. Karena tanaman Plantago dan jamur powdery mildew dapat ditemukan hampir di seluruh dunia, model penelitian ini dinilai mudah diterapkan di berbagai daerah maupun jenjang pendidikan.
Penczykowski bahkan menargetkan terbentuknya jaringan kolaborasi internasional, di mana data yang dikumpulkan oleh siswa dan peneliti dari berbagai negara dapat digunakan untuk menguji prediksi penyebaran penyakit tanaman di kota-kota di seluruh dunia.
Untuk mendukung penyebaran program, WashU bersama Institute for School Partnership juga meluncurkan video edukasi “Plants Get Sick!” yang memperkenalkan proses penelitian penyakit tanaman kepada guru dan siswa.
Pembelajaran yang lebih nyata
Guru Jackson Park Elementary, Monique Hite-Patterson, mengatakan kegiatan tersebut membuat siswa jauh lebih aktif dibandingkan pembelajaran di kelas.
Menurutnya, ketika anak-anak dapat menyentuh tanaman, melakukan pengukuran sendiri, dan melihat ilmuwan bekerja secara langsung, pembelajaran menjadi lebih bermakna. Program ini juga memperkuat kemampuan matematika, literasi, sekaligus memperlihatkan bahwa siapa pun memiliki kesempatan menjadi ilmuwan.
Sementara itu, Kaylee Arnold, peneliti di laboratorium Penczykowski, berharap semakin banyak anak dari berbagai latar belakang tertarik menekuni bidang ekologi dan ilmu tanaman.
Menghubungkan pendidikan dan konservasi
Kolaborasi antara peneliti universitas dan sekolah dasar menunjukkan bahwa pendidikan sains tidak harus menunggu hingga bangku kuliah. Dengan melibatkan siswa dalam penelitian nyata, mereka tidak hanya belajar mengenali penyakit tanaman, tetapi juga memahami bagaimana data sederhana yang mereka kumpulkan dapat membantu ilmuwan menjawab tantangan global seperti perubahan iklim, kesehatan tanaman, dan ketahanan pangan.
