Green Tech

Fangchenggang Tunjukkan Sinergi Teknologi Antariksa dan Energi Bersih untuk Lindungi Ekosistem Pesisir

Kota Fangchenggang di Daerah Otonom Guangxi Zhuang, China Selatan, menunjukkan bagaimana teknologi antariksa, konservasi lingkungan, dan energi bersih dapat berjalan beriringan untuk menciptakan pembangunan berkelanjutan. Kisah kota pesisir ini menjadi contoh penerapan transformasi hijau yang didukung pemantauan berbasis satelit dan pengembangan energi rendah karbon.

Salah satu simbol keberhasilan konservasi di Fangchenggang adalah kemunculan kembali bangau putih oriental (Oriental White Stork), spesies langka yang dijuluki “panda raksasa di dunia burung”. Burung yang berstatus dilindungi dan terancam punah secara global itu pertama kali terekam di Cagar Alam Nasional Muara Beilun, menandakan kondisi ekosistem setempat semakin sehat.

Direktur cagar alam tersebut, Chen Hanbo, mengungkapkan bahwa selama 14 tahun terakhir, timnya secara rutin memantau garis pantai sepanjang 43 kilometer untuk mencegah aktivitas yang merusak lingkungan. Hasilnya, luas hutan mangrove di kawasan itu meningkat dari sekitar 1.000 hektare pada 2010 menjadi 1.140 hektare pada 2025. Jumlah spesies burung yang tercatat juga bertambah dari lebih dari 180 menjadi 320 spesies. Selama enam tahun berturut-turut, tidak ditemukan kasus perusakan mangrove maupun invasi besar spesies asing.

Keberhasilan tersebut tidak lepas dari dukungan teknologi antariksa. Sejak diluncurkan pada Oktober 2025, satelit Beibu Gulf-1 telah beroperasi stabil di orbit. Satelit ini dibekali teknologi Synthetic Aperture Radar (SAR) yang mampu mengumpulkan data tanpa terpengaruh kondisi cuaca maupun pencahayaan. Satelit tersebut digunakan untuk memantau kualitas air, lokasi budidaya perikanan, suhu permukaan laut, arus laut, hingga kondisi lingkungan pesisir secara terus-menerus.

Data penginderaan jauh yang dikumpulkan juga dimanfaatkan untuk memprediksi lokasi kemunculan kelompok ikan berdasarkan pola perilaku berbagai spesies. Pendekatan ini membantu nelayan meningkatkan efisiensi penangkapan sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan. Selain itu, satelit dapat mendeteksi perubahan hutan, kondisi tanah, pencemaran air, hingga aktivitas pembuangan limbah ilegal. Pada situasi bencana seperti banjir dan longsor, satelit mampu mengirimkan citra daerah terdampak guna mendukung penanganan darurat dan rekonstruksi pascabencana.

Selain satelit, Fangchenggang juga mengoperasikan kapal udara White Whale-1 untuk memperkuat kemampuan pemantauan kelautan, pengelolaan pelabuhan, mitigasi bencana, dan layanan perikanan. Sistem pengawasan terpadu yang menggabungkan satelit, wahana udara, drone, dan patroli lapangan dinilai meningkatkan efektivitas perlindungan mangrove dan vegetasi pesisir lainnya.

Dari sisi kualitas lingkungan, Fangchenggang mencatat capaian yang mengesankan selama periode Rencana Lima Tahun ke-14 China (2021-2025). Persentase hari dengan kualitas udara baik dan sangat baik berada di atas 98 persen setiap tahun. Sementara itu, kualitas air permukaan dan tingkat kepatuhan sumber air minum mencapai 100 persen, dengan tutupan hutan meningkat hingga 65 persen.

Pembangunan berkelanjutan di Fangchenggang juga ditopang oleh sektor energi bersih. Di pesisir Teluk Beibu berdiri Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fangchenggang, proyek tenaga nuklir pertama di wilayah barat China. Empat unit reaktor yang telah beroperasi secara kumulatif menghasilkan lebih dari 160 miliar kilowatt-jam listrik, setara dengan penghematan lebih dari 48,5 juta ton batu bara standar dan pengurangan emisi karbon dioksida sekitar 132 juta ton.

Pada Mei 2025, pembangunan tahap ketiga proyek pembangkit nuklir tersebut resmi dimulai dengan penambahan dua reaktor baru berteknologi Hualong One. Kedua unit itu diperkirakan mampu menghasilkan 20 miliar kilowatt-jam listrik setiap tahun. Setelah seluruh proyek rampung, kapasitas terpasang pembangkit diproyeksikan melampaui 6,9 juta kilowatt dengan produksi listrik tahunan mencapai 53 miliar kilowatt-jam.

Selain energi nuklir, Fangchenggang juga mengembangkan proyek pembangkit listrik tenaga bayu lepas pantai yang menjadi salah satu proyek terbesar di China Barat Daya. Setelah beroperasi penuh, proyek tersebut diperkirakan dapat menghasilkan lebih dari 5 miliar kilowatt-jam listrik per tahun dan mendorong investasi industri terkait senilai lebih dari 20 miliar yuan atau sekitar 2,95 miliar dolar AS.

Upaya perlindungan lingkungan ternyata tidak menghambat pertumbuhan ekonomi kota tersebut. Selama periode 2021-2025, produk domestik bruto (PDB) Fangchenggang meningkat dari 75,2 miliar yuan menjadi 120,1 miliar yuan, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan mencapai 7,8 persen. Selain industri baja dan logam nonferro, sektor energi bersih dan material hijau kini berkembang menjadi pilar ekonomi baru kota itu.

Pemerintah Fangchenggang menegaskan bahwa pembangunan energi dan perlindungan lingkungan bukanlah dua tujuan yang saling bertentangan. Sebaliknya, keduanya dipandang sebagai proses yang saling mendukung. Transformasi tersebut juga tercermin dalam meningkatnya kesadaran masyarakat setempat terhadap pentingnya konservasi dan pembangunan hijau. Kemunculan kembali bangau putih oriental di hutan mangrove Fangchenggang menjadi simbol keberhasilan perpaduan antara teknologi, energi bersih, dan perlindungan alam.