Apa itu Bokashi?

Metode Pengomposan yang Cepat dan Ramah Lingkungan

Secara singkat, bokashi (ぼかし) adalah metode pengomposan asal  Jepang yang menggunakan bahan-bahan organik untuk difermentasikan terlebih dahulu secara anaerob dengan mencampurkan mikroorganisme tertentu sehingga tidak menimbulkan bau layaknya pada metode pengomposan tradisional. Secara bahasa sendiri arti dari bokashi adalah gradasi.

Daftar Isi

Penemu Bokashi

Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang profesor hortikultura bernama Dr. Teruo Higa pada 1980-an. Dalam penelitiannya ia menemukan bahwa campuran mikroorganisme tertentu seperti bakteri asam laktat, ragi, dan bakteri fotosintetik dapat mempercepat proses dekomposisi bahan organik tanpa menghasilkan bau yang tidak sedap. Campuran mikroorganisme ini kemudian disebut sebagai mikroorganisme efektif (EM). Sejak saat itulah metode bokashi semakin cepat dikenal dan disukai banyak orang.

Kompos Bokashi

Perbandingan Metode Pengomposan Bokashi dan Tradisional

Berikut ini adalah perbandingan sederhana proses pengomposan bokashi dengan proses pengomposan tradisional.

Proses Penguraian

Bokashi

  • Proses Anaerob : Bokashi menggunakan proses fermentasi anaerob, yaitu penguraian bahan organik dalam kondisi tanpa oksigen. Mikroorganisme efektif (EM) digunakan untuk memfermentasi bahan organik.
  • Waktu: Proses fermentasi Bokashi biasanya memakan waktu sekitar 2 minggu.
  • Wadah Tertutup: Bokashi dilakukan dalam wadah kedap udara untuk menciptakan kondisi anaerob.

 

Pengomposan Tradisional

  • Proses Aerob: Pengomposan tradisional menggunakan proses dekomposisi aerob, yaitu penguraian bahan organik dengan kehadiran oksigen. Mikroorganisme aerobik seperti bakteri dan jamur memainkan peran utama.
  • Waktu: Proses pengomposan tradisional bisa memakan waktu dari beberapa bulan hingga satu tahun, tergantung pada kondisi dan manajemen tumpukan kompos.
  • Tumpukan Terbuka: Pengomposan tradisional biasanya dilakukan di tumpukan terbuka atau wadah yang memungkinkan aliran udara.

Bahan yang Digunakan

Bokashi

  • Beragam Bahan Organik: Bokashi dapat mengolah berbagai jenis limbah organik, termasuk sisa makanan yang sulit diuraikan seperti produk susu, daging, dan ikan.
  • Inokulan EM: Bokashi memerlukan inokulan mikroorganisme efektif (EM) yang dicampur dengan bahan organik.

 

Pengomposan Tradisional

  • Bahan Organik Terbatas: Biasanya lebih selektif terhadap jenis bahan organik. Bahan seperti daging dan produk susu tidak dianjurkan karena bisa menarik hama dan menghasilkan bau.
  • Bahan Tambahan: Sering kali memerlukan bahan tambahan seperti daun kering, jerami, atau kotoran hewan untuk menjaga keseimbangan karbon dan nitrogen.

Kondisi Lingkungan

Bokashi

  • Lingkungan Anaerob: Harus dipastikan kondisi anaerob dalam wadah tertutup. Tidak memerlukan pengadukan atau aerasi.
  • Tidak Terpengaruh Cuaca: Dapat dilakukan di dalam ruangan atau luar ruangan, tidak terpengaruh oleh kondisi cuaca.

 

Pengomposan Tradisional

  • Lingkungan Aerob: Memerlukan aliran udara yang baik. Tumpukan harus diaduk secara berkala untuk memastikan oksigen tersebar merata.
  • Terpengaruh Cuaca: Prosesnya bisa dipengaruhi oleh kondisi cuaca, seperti curah hujan atau suhu udara yang ekstrem.

Hasil Akhir

Bokashi

  • Pre-Kompos: Produk akhir dari proses Bokashi adalah bahan yang telah terfermentasi, namun belum sepenuhnya terdekomposisi. Bahan ini biasanya memerlukan waktu tambahan di tanah untuk sepenuhnya terurai.
  • Nutrisi: Kompos Bokashi kaya akan mikroorganisme bermanfaat dan nutrisi yang langsung tersedia untuk tanaman.

 

Pengomposan Tradisional

  • Kompos Matang: Produk akhir adalah kompos yang telah sepenuhnya terdekomposisi dan siap digunakan sebagai pupuk organik.
  • Struktur Tanah: Kompos tradisional membantu meningkatkan struktur tanah, meningkatkan kemampuan retensi air, dan menyediakan nutrisi secara bertahap.

Manajemen dan Kesulitan

Bokashi

  • Mudah di Manajemen: Relatif mudah dan tidak memerlukan pengadukan. Tidak menghasilkan bau tidak sedap karena proses fermentasi anaerob.
  • Ketersediaan EM: Memerlukan inokulan EM, yang mungkin tidak selalu tersedia di semua tempat.

 

Pengomposan Tradisional

  • Lebih Menuntut: Memerlukan perhatian lebih dalam hal pengelolaan aerasi, kelembaban, dan suhu tumpukan kompos.
  • Bau dan Hama: Jika tidak dikelola dengan baik, bisa menghasilkan bau tidak sedap dan menarik hama.

Dari beberapa perbandingan di atas, bokashi tampak lebih unggul daripada kompos tradisional karena bokashi memang bertujuan untuk mempercepat pengomposan. Namun hasil akhir dari bokashi masih berbentuk bahan yang terfermentasi sehingga ia baru akan terdekomposisi setelah dicampurkan dengan media tanam.

Proses Pembuatan Bokashi

Berikut ini adalah proses pembuatan kompos dengan metode bokashi. Pada dasarnya, proses pembuatan bokashi ini hanya memerlukan langkah sederhana. Akan tetapi ia membutuhkan kecermatan agar metode ini berhasil. 

Persiapan Bahan

Bahan utama untuk membuat bokashi adalah limbah organik, seperti sisa makanan, daun, atau kertas. Bahan-bahan ini harus dicacah menjadi potongan kecil untuk mempercepat proses dekomposisi.

Inokulasi dengan EM

Limbah organik dicampur dengan inokulan EM. Inokulan ini biasanya tersedia dalam bentuk cair atau campuran dedak yang telah diinokulasi dengan EM.

Fermentasi Anaerob

Campuran limbah organik dan EM kemudian dimasukkan ke dalam wadah kedap udara untuk fermentasi anaerob selama sekitar 2 minggu. Selama periode ini, mikroorganisme akan memfermentasi bahan organik tanpa kehadiran oksigen.

Penggunaan Bokashi

Setelah fermentasi selesai, bahan tersebut siap digunakan sebagai pupuk organik untuk tanah. Kompos bokashi dapat langsung dicampur dengan tanah atau ditambahkan ke tumpukan kompos untuk pemrosesan lebih lanjut.

Dari penjelasan di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa metode bokashi dapat mempercepat proses pengomposan tanpa membuat bau yang membuatnya ramah lingkungan. Bokashi dapat menjadi metode unggulan untuk membuat kompos dengan cepat.

Bagikan artikel ini: